writer's note:
Cerpen ini pertama kali dipublikasikan di rileks tgl 1 maret 2007 trus ada sedikit revisi di bagian akhirnya. Judul awalnya "Saat Aku TIdak Mencintaimu". Kenapa diubah ke judul bahasa inggris? Yah, biar keren aja sih. Hehe. Selamat menikmati.
"Yana.."
Tanpa menoleh pun Yana sudah tahu pemilik suara itu dan bukannya menghentikan langkah, Yana malah mempercepatnya.
Sudah dua bulan ini Rus berusaha mendekatinya, Yana tahu itu tapi ia sama sekali tidak ingin didekati oleh Rus yang culun dan kampungan. Malu sekali rasanya bila teman-teman mengolok-oloknya masalah Rus. Kenapa sih bukan Lei saja yang ada di posisi Rus sekarang?
"Yana, Yana... Tunggu yan.."
Rus berhasil mengejarnya.
"Ummm.. Yan, aku boleh pinjem catetan kemaren ga? Aku kemaren ga masuk."
Kenapa ga pinjem ke orang laen aja? batin Yana dalam hati. Dilihatnya beberapa temannya sedang berbisik-bisik.
"Nih. Besok balikin ya."
Yana hampir-hampir melempar buku itu.
"Makasih Yana"
Tiba-tiba saja semua anak di lorong itu terkena TBC. Yana segera berbalik dan pergi, ke mana saja asal jauh dari makhluk menyebalkan itu.
************
"Yan, dapet salam tuh.....dari Rus. Ow, ow, hei, jangan pake mukul-mukul segala dong."
"Abis lo tuh nyebelin. Uda dong, jangan norak kaya gitu deh. Ga suka tau."
"Ih, digodain gitu aja ngambek. Betewe gimana sih kabarnya lo ama Rus? Uda sedeket apa sekarang?"
"Sedeket langit ama bumi. Heran deh gw ma dia, ga nyadar apa kalo gw tuh ga suka ama dia."
"Emang kenapa sih Yan, kan Rus tuh baek banget, pinter lagi. Udah, lupain aja si Lei itu. Ga bakalan kesampean tau."
"Yee, masa Rus mo disamain ama Lei. Jauh banget. Lo sebagai sahabat harusnya ngedukung gw dong. Duh, Lei apa kabar ya? Uda lama banget ga ada kabar. Eh Lin, jangan-jangan Lei ngedenger gosip gw ama Rus trus jadi segen ngedeketin gw ya?"
"Mimpi lo! Sejak kapan juga Lei mau ama lo?"
************
Siang itu di lapangan basket, Yana benar-benar tidak mengira bakal melihat sosok Lei. Ia berlari menyeberangi lapangan, berharap bisa menangkap cowo itu sebelum menghilang. Tiba-tiba saja sebuah bola menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Yana tidak sempat menghindar dan tubuhnya yang kecil itu terhempas ke tanah. Seluruh isi tasnya jatuh tak beraturan.
Muka Yana merah seperti tomat. Semua orang di lapangan melihat ke arahnya, beberapa bahkan tertawa. Semoga saja Lei tidak melihatnya dalam keadaan kacau begini. Yana sedang berusaha berdiri ketika sebuah tangan terulur ke arahnya, menawarkan bantuan. Dan saat itu barulah dilihatnya pria yang paling tidak disukainya berdiri sambil sebelah tangannya memegang isi tas Yana. Dalam waktu yang sekejap itu juga, dari sudut matanya Yana melihat Lei sedang berjalan ke arahnya. Entah apa yang dipikirkan Yana waktu ia berteriak pada Rus:
"Minggir! Kenapa sih lo harus selalu ada di sekitar gw? Nyadar dong, gw tuh benci sama lo!"
Dan Yana kembali berlari menjauh dari Rus.
************
Setelah bangun dari tidur sorenya, Yana kembali memikirkan kejadian tadi siang di lapangan basket. Sebenarnya ia merasa menyesal telah mengatakan hal-hal yang jahat pada Rus. Toh, tadi ia jatuh karena kesalahannya sendiri. Akhirnya Yana berjanji dalam hati akan bersikap lebih baik pada Rus untuk menebus kesalahannya.
Yana turun dari kamarnya untuk mengambil minum. Di tengah perjalanan saat ia melewati ruang tamu dilihatnya buku-buku yang tadi ditinggalkannya di tangan Rus. Di atas buku-buku itu terdapat pesan singkat.
"Bi, tadi ada yang dateng ya?"
"Iya Non, tapi tadi Non lagi tidur trus Mas itu bilang ga usah ngebangunin Non soalnya dia juga buru-buru."
Yan, aku ke sini mo ngembaliin buku-buku kamu sekaligus catetan yang tadi kupinjam. Maafin aku ya kalo selama ini kamu ngerasa terganggu dengan kehadiran aku. Aku bakal berusaha ngerubah sikapku tapi tolong jangan benci aku. --Rus--
************
"Yan, gw tau lo ga peduli tapi gw tetep harus ngabarin hal ini ke lo."
"Apaan sih Lin, suara lo serem banget. Gw jadi takut."
"Rus..."
Yana terdiam. Biasanya ia akan langsung mengalihkan topik pembicaraan bila mendengar nama itu. Tapi ia sudah berjanji akan bersikap lebih baik jadi dibiarkannya Lin bicara.
"Rus.....meninggal, Yan."
Darah Yana serasa berhenti mengalir.
"Apa? Lo jangan bercanda kaya gitu dong, Lin. Ga lucu tau."
"Gw ga bercanda, Yan. Ini serius."
"Tapi tadi sore dia baru aja dari rumah gw....Ga mungkin, ga mungkin..."
"Dia kecelakaan, Yan. Sepulang dari rumah lo dia mau balik ke kampus, nyerahin tugasnya. Mungkin karena takut telat, dia ngebut dan....Halo? Yana, kamu masih di situ? Halo..."
Yana terduduk lemas. Di saat ia baru saja memutuskan untuk memberi sedikit kesempatan pada Rus, kenapa Rus harus pergi? Kenapa Rus pergi dengan membawa kenangan bahwa Yana membencinya? Seandainya saja dahulu ia bersikap lebih baik pada Rus...